Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, bagaima kabar kalian teman-teman, semoga sehat. Selamat datang di blog ini, semoga apa yang anda ingin cari dapat saya bantu.
Pada kali ini saya akan membagikan laporan yang saya kerjakan sendiri pada saat saya semester 2 lalu, Jurnal ini berjudul Minyak Tanah yang berasal dari matakuliah BioKimia.
Saran dari saya untuk teman-teman semua, saya tidak melarang anda untuk mengCopy-Paste, tapi berdasarkan dari pengalaman saya, setiap saya mengCopy-Paste asal-asalan, itu berakhir dicoret-coret oleh asisten ataupun dosen, alasannya satu, karena saya tidak membacanya terlebih dahulu, hal ini menyebabkan apa yang saya bahas di poin sebelumnya tidak pas dengan apa yang saya ingin bahas di poin berikutnya, jadi sebaiknya dibaca terlebih dulu, fahami apa yang saya maksud, apakah ini sesuai dengan apa yang anda ingin bahas, dan satu hal lagi, jangan terburu-buru.
Jadi kita langsung saja
Jurnal praktikum
UJI FISIKOKIMIA
MINYAK TANAMAN
Nama :
Muliadi
NIM : G011171307
Kelas : E
Kelompok : 33
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
UJI FISIKOKIMIA MINYAK TANAMAN
MULIADI (G011 171 307)
Fakultas Pertanian
Universitas
Hasanuddin, Makassar
ABSTRAK
Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok
manusia sebagai alat pengolah bahan-bahan makanan yang biasanya digunakan untuk
menggoreng. Minyak goreng nabati biasa diproduksi dari kelapa sawit, kelapa,
atau jagung. Penggunaan minyak goreng lebih dari empat kali dapat menyebabkan
perubahan struktur kimia pada minyak sehingga minyak akan rusak dan mengalami
perubahan warna. Minyak yang telah rusak ini biasa disebut dengan minyak
jelantah (waste cooking oil). Salah
satu faktor yang menyebabkan ketengikan, yaitu proses pemanasan berkali-kali
minyak murni pada suhu diatas 200ºC sehingga minyak murni ini mengalami proses oksidasi dan juga proses
hidrolisis, yang menyebabkan derajat keasamannya menurun. Oleh karena itu
dilakukan uji fisikokima untuk mengetahui sifat asam basa pada minyak murni dan
minyak jelantah dengan menggunakan pH indikator untuk mengetahui pHnya.
Didapatkan hasil bahwa pH dari minyak
jelantah lebih rendah dibandingkan dengan minyak murni, walaupun keduanya
sama-sama mempunyai sifat asam.
Kata Kunci : minyak goreng, minyak jelantah, pH
ABSTRACT
Cooking oil is one of human’s main necesssity for
processing food by frying them. Cooking oil can be made of palm tree, coconut
or even corn. Using cooking oil for more than four times can cause changes in
the chemical structure of the oil itself, so the oil’s colour will change and
the oil will be damage. Oil that has been damaged is commonly called “minyak
jelantah” or waste cooking oil. One of the factors that can effects the
rancidity is the process of heating oil done repeatedly above 200ºC so that this
oil undergoes oxidation process and also hydrolysis process, which causes the
degree of acidity decreased. Therefore, the physicochemical test was conducted
to find out the acid-base properties of pure oil and waste cooking oil by using
pH indicator to determine the pH. It was found that the pH of the waste cooking
oil is lower than the pure oil, although both have acid properties.
Key
Words : cooking oil, waste cooking oil, pH
PENDAHULUAN
Minyak adalah salah satu
bahan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Minyak juga bahan pangan
non-esensial dan berfungsi sebagai bahan komplemen. Fungsi minyak sangat
penting dalam menciptakan aroma, rasa, warna dan penambahan nilai gizi termasuk
vitamin A dan kalori. Minyak yang biasa digunakan yaitu minyak yang berasal
daari tumbuhan. Salah satu bentuknya yaitu minyak kelapa. Pada umumnya, minyak
digunakan dalam proses penggorengan, pemanggangan maupun penumisan bahan
makanan. minyak yang digunakan secara berulang akan meningkatkan asam lemak
bebas, selain itu minyak tidak akan layak lagi untuk dipakai diindikasikan
melalui warna dan bau
(Mujadin, 2014)
Ketengikan
pada minyak kelapa biasanya terjadi karena faktor cahaya, pemanasan yang
berlebihan, aksi mikroba, dan faktor lainnya. Secara kimiawi ada tiga penyebab
ketengikan dalam lemak yaitu ketengikan oleh oksidasi, (oxidative ranciditas), ketengikan oleh enzim (enzymatic
ranciditas), dan ketengikan oleh proses hidrolisa. Ketengikan oleh oksidasi
terjadi karena proses oksidasi oleh oksigen udara terhadap asam lemak tidak
jenuh dalam lemak. Proses oksidasi dapat terjadi pada suhu kamar, dan selama
proses pengolahan menggunakan suhu tinggi. Hasil oksidasi lemak dalam bahan
pangan tidak hanya mengakibatkan rasa dan bau tidak enak, tetapi juga dapat
menurunkan nilai gizi, karena kerusakan vitamin dan asam lemak esensial dalam
lemak (Abast, 2016).
Di masyarakat ada
kebiasaan menggunakan minyak secara berulang kali walaupun kondisi secara fisik sudah
tidak memungkinkan dan
tidak layak
lagi seperti mulai
menghitam dan mengental. Alasan yang paling utama yaitu penghematan biaya. Akan
tetapi, persoalan selanjutnya yaitu penggunaan minyak secara berulang akan
berpotensi mengganggu kesehatan. Penggunaan minyak secara berulang juga akan
merusak minyak dan menurunkan pH minyak menjadi asam. ta kerusakan yang terjadi pada minyak
yaitu proses hidrolisis dan oksidasi baik secara enzimatik maupun non-enzimatik (Suroso, 2013)
Minyak yang digunakan
secara berulang dalam jangka waktu yang panjang akan menghasilkan senyawa trans
pada asam lemak yang sering kali dikaitkan dengan gangguan kesehatan. Minyak
yang telah berulang dipakai digunakan dalam proses menggoreng maka, makanan
yang digoreng dapat menyerap produk degradasi seperti radikal bebas, yang
menyebabakn perubahan pada organ misalnya bertambahnya berat ginjal dan
timbulnya berbagai penyakit seperti kanker, hipertensi dan obesitas (Suroso, 2013).
Percobaan
ini perlu dilakukan guna mengetahui tingkat kemasaman kedua sampel minyak.
Percobaan ini juga memungkinkan kita untuk mengetahui kualitas minyak yang
hendak digunakan, apakah masih layak atau tidak, sehingga pada akhirnya orang
tidak lagi memakai minyak secara berulang kali.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan
untuk mengetahui sifat asam-basa minyak kelapa.
Metode
Praktikum ini
dilaksanakan di Laboratorium Kultur
Jaringan dan Fisiologi, Fakultas Pertanian, Universitas
Hasanuddin, Makassar. Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2018,
pukul 13.00-14.40 WITA. Bahan yang digunakan yaitu minyak kelapa yang masih
murni dan minyak kelapa yang sudah tengik. Adapun alat yang digunakan yaitu
tabung reaksi, pipet tetes dan kertas indikator pH universal. Dan Uji sifat asam-basa minyak kelapa ini
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Menyiapkan
alat dan bahan yang diperlukan.
2. Menyiapkan
masing-masing dua tabung reaksi dan dua pipet tetes.
3. Memasukkan
kurang lebih 5 ml masing-masing minyak kedalam tabung reaksi yang berbeda
dengan bantuan pipet tetes yang berbeda pula.
4. Memasukkan
kertas indikator pH universal ke dalam tabung yang berisi minyak. Diamkan
selama 30 detik dan amati perubahan warna yang terjadi.
5. Mencocokkan
perubahan warna pada kertas indikator pH universal dengan sampel pH pada wadah
kertas indikator pH tersebut.
6. Mencatat
perubahan warna yang terjadi pada tabel pengamatan.
Adapun
metode lain yang dapat digunakan untuk uji fisikokimia pada minyak tanaman
yaitu dengan menggunakan porselin tetes dan kertas lakmus. Dengan prosedur
meneteskan sedikit minyak kelapa pada porselin tetes dan diuji dengan
menggunakan kertas lakmus (Suci, 2011).
Hasil
dan Pembahasan
Tabel 1. Hasil Pengamatan
Sifat Asam-Basa Mnyak Tanaman
No
|
Zat
Uji
|
pH
Indikator
|
Sifat
(Asam/Basa)
|
1
|
Minyak kelapa
|
6
|
Asam
|
2
|
Minyak kelapa tengik
|
4
|
Asam
|
Sumber
: Data Primer, 2018.
Hasil praktikum yang telah dilakukan, diperoleh bahwa minyak kelapa
yang murni mempunyai pH 6 sedangkan minyak kelapa tengik mempunyai pH 4. Minyak
kelapa tengik mempunyai pH yang lebih rendah dibanding dengan minyak kelapa
murni, hal ini terjadi karena minyak kelapa tengik telah mengalami proses
pemanasan berkali-kali. Dengan seringnya terjadi hal ini, menyebabkan minyak murni yang awalnya
memiliki pH 6 akan berubah menjadi 4 karna terlalu sering digunakan.
Sesuai dengan pernyataan dari Maharani (2012)
bahwa terdapat beberapa hasil penelitian yang membahas tentang perubahan mutu pada suatu minyak
goreng selama dalam
masa penyimpanan, antara lain penelitian yang menunjukkan lamanya pemanasan minyak
akan mempercepat destruksi minyak akibatnya bilangan peroksida menjadi
meningkat. Selain itu, frekuensi penggorengan minyak mempunyai pengaruh
terhadap angka peroksida (indikator ketengikan) minyak kelapa sawit sisa pakai.
Frekuensi pemanasan mempengaruhi kejenuhan lemak minyak goreng
yaitu pemanasan minyak goreng lebih dari empat kali meningkatkan lemak jenuh,
sehingga akan meningkatkan kejenuhan lemak pada makanan yang digoreng yang
menyebabkan cepat tengik. Frekuensi maupun lama pemanasan minyak mempunyai
pengaruh terhadap perubahan angka peroksida. Pengemasan juga mempengaruhi mutu
produk selama penyimpanan. Perlakuan pengemasan dapat dilakukan dengan mengatur
rasio volume kacang dengan kemasan untuk mendapatkan variasi ketersediaan
oksigen dalam kemasan (Maulaningrum, 2008)
Minyak yang sudah tengik sudah tidak
dianjurkan untuk dikonsumsi, ini dikarenakan pada minyak yang
sudah tengik ini
mengandung
banyak asam lemak jenuh yang tidak dapat diproses oleh tubuh manusia yang untuk kemudian di rombak menjadi sumber energi.
hasil oksidasi minyak ataupun lemak dalam bahan makanan tidak hanya akan menimbulkan
rasa dan bau yang tidak sedap, tetapi juga akan menurunkan nilai gizi yang terdapat dalam makanan itu sendiri karena rusaknya vitamin dan asam lemak
esensial dalam lemak yang terdapat dalam makanan (Siswati. 2010)
Selain sifat yang didapatkan melalui praktikum yang
memanfaatkan kertas pH Indikator, kedua jenis minyak kelapa tersebut juga
memiliki ciri yang berbeda. Dari pengamatan menggunakan indera penglihatan dan penciuman
maka diketahui bahwa minyak kelapa murni memiliki ciri-ciri berwarna kuning
keemasan, jernih, dan tidak menimbulkan bau yang menyengat. Adapun pada minyak
kelapa tengik memiliki ciri-ciri berwarna coklat kehitaman, lebih kental dan
baunya sangat menyengat dan tidak lagi khas minyak kelapa. Reaksi hidrolisis,
minyak akan diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisa yang
dapat menyebabkan kerusakan minyak atau lemak terjadi karena terdapatnya
sejumlah air dalam minyak tersebut. Sedangkan proses oksidasi berlangsung bila
terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan minyak. Terjadinya reaksi
oksidasi akan mengakibatkan minyak berbau tengik pada minyak dan lemak (Dimyati
2015).
Kita
bisa lihat apa yang terjadi pada beberapa masyarakat yang masih menggunakan
minyak tengik karna alasan menghemat biaya pengeluar, ada beberapa masyarakat
yang tau akan bahaya dari minyak yang digunakan berung kali tapi masi
menggunakannya.
KESIMPULAN
Adapun
Kesimpulan yang didapat dari Uji Fisikokimia Minyak Tanaman adalah Minyak
kelapa murni mempunyai sifat yang asam,
begitu pun dengan minyak tengik, walaupun pada umumnya minyak murni
mempunyai pH yang netral Minyak kelapa
tengik mempunyai pH yang lebih rendah yaitu 4 dibanding
dengan minyak kelapa murni yang mempunyai pH 6,Ketengikan
pada minyak dapat disebabkan oleh,Ketengikan
oleh proses oksidasi (Oxidative rancidity), Ketengikan oleh
enzim (Enzymatic rancidity), Ketengikan
oleh proses hidrolisis (Hydrolytic
rancidity)
UCAPAN
TERIMA KASIH
Dengan
terselesaikannya Artikel Ilmiah Uji Fisikokimia Minyak Tanaman, penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan kemudahan sehingga
penulis dapat menyelesaikan artikel ini
2. Orang tua saya yang selalu mensupport dan mendoakan saya disetiap
kegiatan yang saya laksankan
3. Asisten
biokimia tanaman kelas E, kak Tita Aulia
sulistina dan kak Dwi Wahyuni Haswin
4. Teman-teman kelompok 33 yang telah membatu saya
menyelesaikan artikel ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkarim,
Myat, M.W., dan Ghazali H.M. 2010. Sensory
and Physicochemical Qualities of Palm Olein and Sesame Seed Oil Blends during
Frying of Banana Chips. Journal Department of Food Science.
Ketaren,
S. 2008. Minyak dan Lemak Pangan.
Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Lau, Edwin. 2009. Healthy Express Super Sehat dalam 2 Minggu . Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Maharani,
Dewi May, dkk. 2012. Kinetika
Perubahan Ketengikan (Rancidity) Kacang Goreng Selama Proses Penyimpanan. Jurnal Keteknikan Pertanian. Vol. 32, No. 1.
Maulaningrum,
Pristiya. 2008. Pengaruh Frekuensi Pemanasan Terhadap
Kejenuhan Lemak Minyak Goreng Curah Dan Minyak Goreng Bermerek Di Pasar
Tradisional Kota Semarang. Skripsi
Ramdja,
A Fuad, dkk. 2010. Pemurnian Minyak Jelantah Menggunakan Ampas Tebu Sebagai
Adsorben. Jurnal Teknik Kimia Universitas
Sriwijaya. Vol.17 No.1.
Rosen
AB, Gelfand EV. Pathophysiology of acute
coronary syndrome. In: Management of acute coronary syndrome. United
Kingdom
Siswati,
Nana Dyah. 2010. Pemanfaatan
Antioksidan Alami Flavonol Untuk
Mencegah Proses Ketengikan Minyak
Kelapa. Jurusan Teknik
Kimia
FTI UPN.
Satu hal yang saya minta kepada teman-teman untuk setidaknya meninggalkan jejak untuk saya, baik itu di kolom komentar ataupun dibagikan ke teman-teman yang lainnya. Karena komentar dari teman-teman sangat berpengaruh bagi saya untuk terus berkembang kedepannya lagi sekitan terima kasih, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar